Selamat pagi. Hari ini saya terpaksa tidak futsal lagi karena lagi dan lagi saya tumbang. Bangun tepat pukul 7 dan mencoba mengingat situasi yg hectic tadi malam sembari berlindung di hangatnya selimut.
Malam itu sangat dingin, sangat dingin bagi hati saya yang sedang panas. Saya rindu, sangat rindu terhadap 2 orang itu. Walaupun kadar rindunya berbeda tapi tetap saja rindu. Dengan badan yang sempoyongan, saya pergi dengan mobil ke cileunyi. Saya tau cuma ini cara satu-satunya untuk tetap bisa berkomunikasi dengannya karena nomer telpon, kontak bbm, dan twitternya sudah saya hapus. Mamah berdiri dan melarangku untuk pergi tapi dia gabisa melarangku dengan keseriusanku.
Sesampainya disana. Badan semakin hangat, kaki gemeteran, jalan sempoyongan. Beberapa kali saya memukul pipiku sendiri agar pandanganku tidak buyar. Ibunya keluar dan memanggil nessa. Setelah kutunggu beberapa lama dia tidak keluar juga. Ibunya kembali keluar dan mengatakan bahwa nessa lagi tidur dan susah dibangunin. Oke jam 7 malem dia sudah tidur. Secara implisit hal itu menandakan bahwa dia berucap “hey bonny, pergi kamu. Saya tidak mau melihat mukamu lagi”. Kemudian saya berpamitan kepada ibunya dan diam di mobil. Menerima kenyataan yang sebenarnya tidak bisa diterima. Setelah merasa kuat baru saya pulang. Memacu mobil dengan kencangnya.
Sesampai dirumah, ide cemerlang itu datang. Saya baru sadar bahwa dia pernah memberi nomer hapenya via DM di twitter. Kemudian saya mengecek dan ternyata masih ada. Langsung saja saya menelponnya. 3x saya berusaha menelponnya tetapi tidak ada jawaban. Sebegini bencikah dirimu terhadap saya nes?
Berusaha menerima lagi bahwa memang saya sulit untuk menjalin komunikasi dengannya. Sepi, sangat sepi malam itu. Saya langsung mencari kontak bbm wanita “itu”. Saya ingin sekali memulai percakapan dengannya tetapi saya ingat bahwa senin kemarin saya baru saja chat dengannya. Hubungan yang terlalu intens tidak baik untuk saya dan juga untuk dia. Tapi saya butuh dia.
Akhirnya saya mulai juga percakapan dengan dia dan meminta izin untuk menelpon. Saya sudah bisa menebak jawaban apa yg dia lontarkan ketika saya meminta izin “sok aja si, kenapa emang”. Itu adalah kalimat yg menurut saya adalah keragu-raguan. Saya mengerti perasaan dia. Akhirnya kita lanjut di telepon.
Kita cukup lama berbicara via telepon. Wanita ini adalah salah satu yg sangat saya rindukan. Bedanya, wanita pertama begitu jauh sehingga saya sangat merasa kehilangan tetapi wanita kedua masih mau berkomunikasi sehingga saya tidak terlalu merasa kehilangan.
Banyak yang kita bicarakan di telepon. Mulai dari kabar dia, urusan organisasinya, penelitian yang dia lakukan, perfeksionis, intovert dan ekstrovert, dan masalah-masalahku. 2 jam lamanya kita berbincang-bincang di telepon. Entah kenapa, cuma dia yang saat ini saya percaya untuk berbagi. Orang yang sebenernya tidak etis sebagai tempat berbagai cerita. Mungkin dia terpaksa menjadi pendengar yang baik karena kasihan melihatku.
Ada beberapa pelajaran yang saya tangkap untuk malam yang hectic kemarin.
-berkorban dan berbuat baik itu tidak selamanya dapat dilihat oleh orang lain. Jadi berkorban dan berbuat baik saja tidak cukup, kita masih butuh satu faktor lainnya yaitu “luck”
-jangan pernah menggantungkan asa kepada orang lain, biarkan orang lain yang menggantungkan asa kepadamu
-berbuat terus kebaikan, biarkan mereka sadar betapa baiknya dirimu. Biarkan mereka menyesal mengapa mereka telah mencampakkanmu
Tidak kerasa sudah jam 10.30. Saya harus mandi dan mulai beraktivitas.
Not even diseases could slow me down. Ciaaoo